Rabu, 13 Desember 2017

#Chapter 1 : Sarjana Indonesia


Sarjana Indonesia
Silakan Diya, waktu anda 45 detik dimulai dari, sekarang.....

“Bagiku, Indonesia adalah buku terbuka
Dimana setiap generasinya harus
Bekerja, mencipta, bersuara, bergerak dalam karya
Indonesia adalah harapan
Dimana saat kita berfikir tentang buramnya masa depan Indonesia,
tidaklah seburam yang terlihat
Indonesia akan selalu menjadi harapan
Saat semua segera bangkit dan sadar
Bahwa indonesia adalah milik bersama
Dari rakyat jelata hingga mereka yg berada di singgasana
Oleh sebab itu asa tidak hanya ada di tangan penguasa
Tapi ‎dalam kehendak warganya yang berdaya.
Terutama para generasi muda”
Terimakasih.....

Tak bisa ku percaya. Terdengar suara gemuruh tepuk tangan penonton setelah mendengar jawaban dariku. Dan tak ku sangka pula. Semua juri pun tampak tersenyum takjub. Lalu mataku perlahan terbuka dan bibirku masih saja tersenyum.

“Yaah....  Cuman mimpi”, ucapku sedikit kesal dalam hati. 
Aku kembali memandangi langit-langit kamar sembari berkhayal mencoba mengingat-ingat kembali pesonaku di mimpi tadi. Gaun yg indah. Senyum yg tipis tapi manis. Sikap yg elegan. “Uuhh..... Mana mukin mimpi seperti ini bisa menjadi dajavu,” keluhku sambil meraba-raba sekeliling kamar mencari hp. Sudah menjadi kebiasaan ku mencari hp setiap bangun tidur untuk mnegecek email atau what app yg masuk. Tp jam d hp telah menunjukkan pukul 7.29. “Mampus, bisa telat niih.....” Secepat kilat aku bergegas berlari ke kamar mandi.

“Rin, tau nggak?...”  “nggak!!”  Jawab rini...  “Aku mau ceritain mimpi aku semalam.”  “Mimpi seram lagi ya, makanya diceritain...? Takut dejavu lagi?”  Jawab rini... “Nggak mimpi serem.....” jawab ku sambil nyengir. Hehehe....

Aku memang tak sering bermimpi. Tapi tak tau mengapa, kalau saja mimpi itu terasa dan terlihat jelas tetapi  aku abaikan. Tak jarang mimpi itu dalam rentang waktu dua minggu atau sebulan pasti nyata terjadi. Maka ku sebutlah itu dejavu. Pernah sekali aku bermimpi buruk yang begitu nyata dan terlihat jelas kemudian ku ceritakan kepada seseorang. Setelah 2 minggu, 3 minggu dan sebulan berlalu mimpi itu tak menjadi kenyataan. Jadilah setiap bangun dari  mimpi buruk apalagi yang bersangkutan dengan orang lain, aku selalu berusaha mengingatnya dan menceritakan kembali mimpiku itu kepada orang lain. Karna aku percaya mimpi yang diceritakan kembali akan mematahkan mantra dejavu nya sehingga tak akan terjadi di dunia nyata. 

“Hahahaha.......”. Rini ngakak nggak berhenti.. ketika menoleh muka ku, kembali dia tertawa.... “Mimpi jadi putri indonesia....hahaha......”, ‘Skripsi lu tu benerin dulu...”
Ucap Rini ngeledek. “Ya gak laa makanya aku ceritain”. “Lagian mana mungkin aku mau ikut pemilihan kyk gitu”. “Daftarin diri ajja ogah rin, gak cocok laah.....” Jawabku. “Denger cerita lu, jadi laper gue..., Kantin kak ros yuk...” ucap rini masih setengah ngeledek.  “Yok....Aku juga perlu asupan nii..,Biar gak ngayal terus...” Hahaha.... rini kembali ngakak mendengar ucapku.

Rini adalah sahabatku yg super perfect di mata aku. Pinter, supel, cantik, baik, elegan. Lelaki mana yang tak jatuh hati dengannya. Sedangkan aku, perkenalkan aku diya. yaaa biasa ajja laahh.... Ngagenin ajja udh lebih dari cukup. Well, kami adalah mahasiswa akhir yg sedang (sok) sibuk menyelesaikan skripsi.

“Diya, aku udh di suruh maju nii sama bu anis”. “Bagus donk...” Jawabku singkat. “Trus kamu gimana?” kata rini menanyaiku. “Aku...Masih belom tau rin, Gak ada kabar....”  “Yaahh...  Aku nunggu kamu aja deh..” kata rini. “Ehh, gak usah donk,” kamu ajja maju duluan”. “Tp nanti pas duduk wisuda gak bisa deketan donk”  kata rini. “Ah, gak masalah” jawabku. ‘Kamu itu yang harus di persiapkan sidangnya, Jadi jadwal sidangya kapan?” Tanyakku lagi.. “Minggu depan....” di sertai dengan senyuman rini. “Bissmillah yaa”  kataku....

Seminggu kemudian di ruang sidang.
Aku mengamati Rini dari jarak yang agak jauh. Di pintu keluar pojok ruang sidang. Rini nampak tenang, lancar dan yakin pada saat menjelaskan dan menjawab pertanyaan dosen penguji. Aku semakin bangga dengan temanku.  Pasti nilaimu bagus rin ucapku dalam hati. Saat akhir-akhir sidang adalah saat yang mengharukan ketika di tanya oleh para penguji sebuah pertanyaan yang kira-kira begini. “Rini, siapkah dirimu untuk mengamalkan semua ilmu yg telah engkau dapat selama disini pada masarakat nanti? 

Aku memperhatikan ekspresi muka rini, sahabatku. Ada yang berbeda....Rini tertunduk diam tak menjawab. Sebagai sahabatnya. Aku mengerti. Ada sesuatu yg ditahan oleh rini, meskipun tak begitu jelas apa yang ia pikirkan saat ini. Seluruh isi ruangan tampak lebih sunyi dari sebelumnya. Kaku membisu... 

Kemudian salah seorang penguji memberikan nasehat. “Nak, banyak orang diluar sana yang menunggumu”. “Jangan lagi kau ragu”. “Hadapi tantangan masa depan dengan keberanian”.

Setelah selesai sidang dan ruang sudah mulai sepi, rini datang menghampiriku yang sedari tadi berdiri. “Diyaaa.... “ teriakannya memanggil namaku dan kemudian memelukku. “Selamat ya atas predikat barunya, Pengangguran....“ Kataku...  Dia tertawa. “Gimana, udah lega?” Tanyaku lagi. Rini hanya membalas dengan senyum yang kali ini aku tak tau ekspresi tulus atau hanya dibuat-buat. “Nanti malam aku yg traktir kamu.  “Oke.. “ Jawabku cepat. “Aku yg nentuin tempat nya dan nanti aku yg jemput”, balas Rini tak kalah cepat....

Setelah sholat magrib aku pun siap-siap dan menunggu rini di teras depan rumah.  Hp ku berdering, “Aku otw yah diya...” Isi smsnya....  15 menit kemudian rini datang.  Aku langsung berlari dan duduk di boncengan motornya kemudian langsung berangkat. Seperti biasa di perjalanan kami berbincang segala hal yang tak penting.  Tertawa bersama walaupun hal itu mungkin hanya lucu bagi kami. Sampai aku sadari jalanan yg kami lalui cukup asing bagiku. “Kita makan dimana Rin??”  Tanya ku penasaran. “Udah pecaya ajja sama aku, nggak nyasar koq, bentar lagi nyampe.... “ Balas rini. 

Kemudian motornya berhenti tak jauh dari bapak-bapak gerobak yg jualan bakso di tepi jalan..  “Makan disini nii kita rin?” Tanya ku penasaran... “Yukk....” katanya sambil menarik tanganku..... 
“Pak baksonya 2 ya....”  Rini langsung memesan. “Eh, neng rini..., Kemana atuh neng seminggu nggak mampir kesini?”  “Eh, sekalinya datang bawa temennya....” “Siapa ini namanya?”  Bapaknya langsung menyapa aku. “Diya pak,” jawabku singkat. Lalu aku menoleh ke Rini sambil mengkerutkan wajah. Rini tau, aku memerlukan penjelasan....

Setelah memesan dan duduk aku langsung ngerocos nanyak rini. “Rin, kamu tu aneh banget tau hari ini. Mulai dr di ruangan sidang trus sekarang...” “Bapak ini siapa sii koq sok akrab gitu sii...”
“Nanyaknya satu2 kali ah....
“Kamu kenapa sii Rin tadi di ruang sidang?” “Kenapa mesti diam.” “Bukankah udah jadi sarjana sekarang?”  “Menurut orang banyak hari menjadi sarjana adalah salah satu hari yang paling bahagia, tau...”

“Apa benar begitu?” tanyanya..
Aku diam dan mulai mendengarkan nya saja.
“Kamu lihat gak diya?”  “Perjalanan kita menuju kesini?” “Perkampungan ini tidak jauh beda dengan perkampunganku di desa.” Rini mulai menjelaskan. “Emangnya kenap Rin?” jawabku semakin heran...

“Masyarakat kita cukup bangga dengan gelar seorang sarjana”. “Apalagi orang di kampungku”. “Apa kita ini serba bisa ya?” Tanya nya lagi. “Kamu ingat nggak waktu kita KKN, malah kita yang di ajarin pak Manto cara menggerakkan masyarakat”. “Aku bingung Diya, selama kuliah kita selalu di hampiri oleh tujuan-tujuan material”. “Kadang pas ngobrol dengan teman-teman yang lain, selalu saja ceritanya ntar mau kerja disini...di perusahaan ini...gajinya segini...Jangan ke perusahaan itu gajinya standar”. “Pernahkah kita berpikir ingin kembali ke masyarakat diya?” “Sampai td di ruang sidang aku tak pernah memikirkan hal itu sama sekali”. “Dan aku, sampai saat ini aku pun tak pernah terpikir aku akan pulang ke desaku”. 

Wajar saja rini berpikir begitu, dengan potensi yang iya miliki, pastilah iya dapat bersaing dan mendapatkan pekerjaan yang layak di ibu kota. 

“Kita egois ya Diya..?” “Apa tak kau lihat di sepanjang perjalanan”. “Malam-malam gini ajja masih ada ibu-ibu yang mengantri membeli beras untuk di bawa pulang kerumah”. Aku hampir tersedak mendengar kalimat terakhir Rini.... Memang, akhir-akhir ini banyak berita yg mengabarkan gagal panen karena kurangnya teknologi bagi petani untuk mengatasi hama yang membludak, gumamku dalam hati.

“Tak ada sarjana yg mau mengelola koperasi desa bagi petani karna gajinya yg sangat minim”.  “Banyak anak yang putus sekolah karna di paksa orang tuanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga”. “Lalu bagaimana masa depannya Diya?” “Sedangkan di kampungku, jika aku kembali ke kampung, maka akan banyak masyarakat yang menyiyir aku dan berkata”.  “Udah sarjana ujung-ujungnya pulang ke kampung juga, gak bisa cari kerja yang bagus”. Ah, alangkah lucunya masyarakat negeri kita ini, Indonesia. 

Rini membangunkan ku jauh di bawah alam sadarku ketika aku tak sedang tertidur. Bukankah mimipiku penuh dengan hayalan tentang material, gelar dan kedudukan yang akan membuat kita bangga dengan diri kita. Benar kata rini. Kita egois. Kita selalu kita selalu berpikir bahwa kita akan bahagia di masa depan yang berlandaskan pekerjaan bagus. Kedudukan sarta gaji tinggi. Kita lupa menanyai diri kita sendiri. Sudah bermanfaatkah kita bagi orang lain? Benar kata rini, kita tidak pernah sadar. Tak ada yang tulus untuk kembali dan membangun kampung serta memperbaiki kesejahteraan masyarakat bawah. 

Aku teringat dengan mimpi di tidurku minggu lalu yg ku ceritakan kepada rini. Aku tersadar, tak perlu menjadi Miss Indonesia untuk mengubah Indonesia jadi lebih baik. Justru peran aktif, menciptakan dan berkarya mulai dari kelas masyarakat lah yang dapat membangun indonesia menjadi lebih baik. Mungkin kita tak dapat apa-apa dengan melakukan hal seperti itu. Tidak menjadikan kita kaya, tidak muncul di Tv, Apalagi menjadi terkenal. Hanya sebuah perasaan bahagia, sebuah pemahaman yang lebih dalam akan rasa kasih sayang dan menerima yang tak dapat dibeli dengan uang.

“Heh Diya, Bengong ngapain...?”
Aku baru tersadar dari tadi melongo bergumam dalam hati sendiri.
“Sahabatku Rini memang benar-benar istimewa”. Ucapku tersenyum...
“Istimewa apanya?” Balas Rini...  Aku nyengir sendiri. “Pak, tambah baksonya pak!” pintaku. “Mumpung di traktir kan Rin...?” sambil menoleh ke Rini. 


Bagikan

Jangan lewatkan

#Chapter 1 : Sarjana Indonesia
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.