Rabu, 01 November 2017

Generasi micin : Generasi enak


Belakangan, istilah generasi micin dipakai untuk menggambarkan perilaku orang-orang zaman sekarang yang tidak bisa dimengerti, terutama di media sosial. Apapun perbincangannya, pasti yang dibawa-bawa micin. "Dasar generasi micin" "Kebanyakan makan micin sih jadi bodoh" *WKkakaka...Pertanyaannya, benarkah micin seburuk itu sampai bisa disalahkan? sebenarnya kalian tau nggak sih micin itu zat apa? atau hanya ikut-ikutan aja?

Nah, maka dari itu, tak kenal maka tak sayang, yuk kenalan bang. *eh, Kenalan sama micin a.k.a MSG maksudnya. Supaya nggak terjadi miskonsepsi lagi antara dunia permicinan. yuk simak fakta-fakta tentang micin.

Sejarah MSG :
Monosodium Glutamate (MSG) mulai terkenal tahun 1960-an, tetapi sebenarnya memiliki sejarah panjang. Selama berabad-abad orang Jepang mampu menyajikan masakan yang sangat lezat. Rahasianya adalah penggunaan sejenis rumput laut bernama Laminaria japonica. Pada tahun 1908, Kikunae Ikeda, seorang profesor di Universitas Tokyo, menemukan kunci kelezatan itu pada kandungan asam glutamat. Penemuan ini melengkapi 4 jenis rasa sebelumnya - asam, manis, asin dan pahit - dengan umami (dari akar kata umai yang dalam bahasa Jepang berarti lezat). Sementara menurut beberapa media populer , sebelumnya di Jerman pada tahun 1866, Ritthausen juga berhasil mengisolasi asam glutamat dan mengubahnya menjadi dalam bentuk monosodium glutamat, tetapi belum tahu kegunaannya sebagai penyedap rasa. Sejak penemuan itu, Jepang memproduksi asam glutamat melalui ekstraksi dari bahan alamiah. Tetapi karena permintaan pasar terus melonjak, tahun 1956 mulai ditemukan cara produksi L-glutamic acid melalui fermentasi. L-glutamic acid inilah inti dari MSG, yang berbentuk butiran putih mirip garam.

Proses pembuatan MSG:
Secara singkat, MSG dibuat melalui proses fermentasi dari tetes gula (molasses) oleh bakteri (Brevibacterium lactofermentum). Dalam proses fermentasi ini, pertama-tama akan dihasilkan asam glutamat. Asam glutamat yang terjadi dari proses fermentasi ini, kemudian ditambah soda (Sodium Carbonate), sehingga akan terbentuk Monosodium Glutamat (MSG). MSG yang terjadi ini, kemudian dimurnikan dan dikristalisasi, sehingga merupakan serbuk kristal murni yang siap dijual di pasar.


MSG dan Glutamat adalah :
MSG atau monosodium glutamat merupakan garam yang molekul penyusunnya berupa sodium/natrium (Na) dan glutamat. Supaya lebih paham aku ambil contoh garam dapur yang biasa kita pake itu adalah sodium klorida atau rumus molekulnya NaCl. Jadi bedanya MSG dengan garam dapur (NaCl) adalah Cl-nya dituker sama glutamat. Asam glutamat (asam bebas dari MSG) adalah unsur pokok dari protein yang terdapat pada bermacam-macam sayuran, daging, seafood, dan air susu ibu. Bagi tubuh manusia, glutamat berperan penting dalam berbagai proses metabolisme. Glutamat berperan sebagai building block dari protein atau bisa dibilang bahan baku pembentukan protein. Protein sendiri berfungsi sebagai bahan pembangun tubuh, membentuk sel baru, mengganti sel-sel yang rusak, dsb. Asam glutamat digolongkan pada asam amino non essensial karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat.

Dosis aman penggunaan MSG :
Dosis MSG yang direkomendasikan oleh U.S Food and Drug Administration (FDA) adalah sekitar 30 miligram per berat badan. Kadar asam glutamat dalam darah manusia mulai meningkat setelah mengkonsumsi MSG di atas 30 mg/kgBB/hari, yang berarti sudah mulai melampaui kemampuan metabolisme tubuh. Bila masih dalam batas terkendali, peningkatan kadar ini akan menurun kembali ke kadar normal atau seperti kadar semula dalam 3 jam, berarti rata-rata dalam sehari dibatasi penambahan maksimal 2,5-3,5 g MSG (BB 50-70 kg), dan tidak boleh dalam dosis tinggi sekaligus. Sementara, satu sendok teh rata-rata berisi 4-6 g MSG.

Fungsi dan Dosis MSG :
Saat ini, MSG udah secara luas digunakan sebagai penyedap makanan di dunia, mulai makanan instan macem chicken nugget, baso, sup-sup kalengan sampai makanan ringan yang beredar di pasaran. Kayaknya kalau makanan kena MSG, rasanya jadi lebih "endes" gitu.*hahaha... Cara kerja MSG pada makanan adalah dengan memperkuat rasa alami dari berbagai makanan, seperti daging, ikan, sayur, dll. Nah, MSG ini bisa memperkuat rasa karena glutamatnya! Oiya, rasa "gurih" yang dihasilkan MSG itu ternyata bukan berasal dari beberapa rasa yang udah umum kita kenal, seperti manis, asam, asin, pahit (pedes bukan rasa ya). Rasa enak dari MSG ini punya tipe rasa lain. Lidah manusia punya reseptor tersendiri untuk rasa gurih dari Glutamat.

Jadi, MSG aman nggak sih? Kalau MSG a.k.a micin berbahaya, pasti udah di tarik dari pasaran dan nggak akan dapat izin BPOM. iya, kan? Aman atau tidaknya suatu zat tergantung pada dosisnya. MSG dikategorikan sebagai zat yang cukup aman dikonsumsi. Tapi tetap harus diingat, aman menurut FDA itu ya kalo dosisnya sesuai dengan rekomendasi mereka. Dengan demikian, anggapan yang mengatakan "MSG bikin bodoh" tidak punya landasan bukti yang valid. Dugaan sementara, sepertinya anggapan "MSG bikin bodo" ini lahir dari kekhawatiran berlebihan ketika melihat ada orang yang pusing ketika mengkonsumsi MSG. Tapi ada beberapa orang yang memang alergi terhadap MSG dan dapat mengalami gejala seperti pusing, otot terasa tegang, kesemutan dan wajah memerah. Jadi sekali lagi, MSG itu nggak akan bikin bodo karna sampai sekarang belum ada penelitian yang mengatakan bahwa mengkonsumsi micin (dalam batas wajar) dapat mengakibatkan kebodohan. Kalau dosisnya wajar mah dapatnya enak. *Hahaha

Sumber bacaan : Jurnal Chemistry Senses


Bagikan

Jangan lewatkan

Generasi micin : Generasi enak
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.